'Masih' tentang Guru
Media belajar bukan hanya dari buku ataupun Internet saja, film pun bisa! Sebut saja film "Front Of The Class" (silahkan tonton), dalam film tersebut menceritakan seorang yang menderita Sindrom Tourette. Sindrom Tourette adalah penyakit neuropsikiatrik yang membuat seseorang mengeluarkan ucapan atau gerakan yang spontan (tic) tanpa bisa mengontrolnya. (setengahnya, silahkan baca di internet)
Dalam film tersebut, seseorang yang menderita Sindrom Tourette itu bernama Brad Hocen (Mr. Bobo). Sejak kecil sampai dewasa ia sudah mencoba berbagai macam pengobatan, mulai dari modern, tradisional, psikiater, tapi tetap saja hasilnya nihil. Karena penyakit tersebut belum ada obatnya, mungkin sampai sekarang.
Selama hidupnya ia dicap sebagai manusia yang 'aneh' karena penyakitnya tersebut. Tidak sedikit teman-teman yang mengejek dan mem-bully-nya. Guru yang seharusnya menjadi pembimbing yang menyenangkan malah membentak dan memarahinya, karena merasa terganggu ketika proses pembelajaran berlangsung.
Tibalah ia masuk sekolah menengah atas. Disanalah ia bertemu dengan sosok kepala sekolah yang mengerti dengan keadaan yang di deritanya. Ia berkata "aku hanya ingin diperlakukan sama dengan murid-murid lain" di sekolah inilah ia mendapatkan kenyamanan belajar, sampai menjadikannya sosok yang pintar dan penuh optimisme.
Singkat cerita, jadilah ia seorang sarjana yang miliki cita-cita menjadi seorang guru. Lamaran pekerjaan sudah ia sebar ke berbagai sekolah dan wawancara sudah ia lewati. Tapi, tetap saja banyak sekolah yang menganggap bahwa penyakit Sindrom Tourette itu tidak bisa menjadi guru; hanya akan mengganggu konsentrasi anak didik saja ketika proses pembelajaran.
Karena semangat dan tekadnya yang kuat, ia tidak pernah kecewa dan putus asa. Terlebih dukungan dari orang-orang yang ia sayangi, yaitu keluarga dan kekasihnya. Ia tetap melanjutkan mencari sekolah yang mau menerima ia apa adanya. Atas kesabaran dan keyakinannya, akhirnya ia diterima di salah satu sekolah.
Di sekolah tersebut ia mengajar di kelas 2, kelas yang penuh dengan tantangan.
Tidak butuh waktu lama untuk ia menyesuaikan diri di kelas tersebut dan anak-anaknya sangat antusias mengikuti pembelajaran yang ia sampaikan. Bahkan anak-anak sangat mencintai dan tidak mau kehilangannya. Dan di tahun pertama ia mengajar, ia dinobatkan sebagai "TEACHER OF THE YEAR"
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil, semua anak adalah sama. Sama-sama harus mendapatkan pendidikan, sama-sama harus mengembangkan potensinya. Cacat bukan alasan untuk membeda-bedakan. Karena tidak ada anak yang mau cacat, semuanya merupakan Takdir Tuhan, dan Takdir Tuhan merupakan rencana yang paling baik. Serta Dukungan dan doa orangtua harus selalu ada, jangan pernah hilang.
Kemudian, seorang guru harus menjadi sosok yang menginspirasi anak didiknya. Sikap dan interaksi guru kepada anak didik sangat berpengaruh terhadap masa depannya. Tetaplah jadi guru yang menjalankan perannya dengan baik, sebagai pembimbing, pengarah, pelatihan, dan bertauladan baik untuk anak didiknya.
Terimakasih!
0 Response to "'Masih' tentang Guru"